Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Mengabadikan yang Fana

melihatmu senja di pagi hari lidahku kelu pada ego yang kian merasuki tanganku tak jadi menarik ulur ikhlas dalam hati aku serasa bidadari yang tersesat di neraka kemudian menemuimu di batas senja dengan raut wajah yang kian menua beberapa orang akan bertanya, "Apa yang kau lakukan saat muda?" aku ambigu pada semu tak ada tirta amarta di laut mataku nahkodaku hilang dicuri pagi siapapun, aku tak ingin mati pada mimpi dan ambisi snfirda, 11/10/2018

Mengadu Pada Diri

Alhamdulillah, kemarin tengah malam hatiku gembira. Seolah sulut kebahagiaan membakar segala ruang. Aku menjadi bangga sampai tidak bisa tidur. Mimpiku takkaruan, entah tak terdefinisikan. Pagiku pun bahagia, kusebar kabar indah yang bermakna. Namun sedikit hati2 bila nanti membuat hati terluka bila aku tak mampu mewujudkan apa yang mereka minta. Mereka terlampau bangga padaku. Bahagiaku berlipat ganda ketika sanjungan dan pujian datang dari teman2 kelasku dan dosen yang mengampuku. Aku tak tahu harus benar-benar bahagia atau setengah malu. Karena aku bahkan belum memegang penghargaan itu. Ya, aku rasa akulah yang seharusnya datang malam itu. Bukan, aku takut sombong. Tidak, aku tidak mengatakannya sombong. Aku hanya merasa... tidak memang tidak pantas. Siangku masih gembira, kubaca dongeng-dongeng di buku Ikan-Ikan Terbang karya Mas Al. Ya sejujurnya aku ingin seperti pengarangnya, licik dalam membuat emosi pembaca terseret. Ah soreku ternyata seperti senja. Menanti kabar gembira, se...

Seorang Putri yang Bersepeda Menuju Langit

Aku pernah bersepeda menuju langit mengayuh beberapa mimpi pada aspal imaji pribumi mengantongiku sejumlah petisi konon, aku seorang putri putri bersepeda? bukankah cirrus pernah memahkotaiku? adakah mimpi seorang putri belum terpenuhi? Aku melaju, memancal pedal yang hilang katanya, lazuardi mengutuki para elang elangku sudah lama damai di jurang tapi itu kisah bohong langit tak sekejam neraka elangku mati suci menghadiahi sepeda manusia iri memandangku dilemparkan mukanya ke dasar bualan lalu membiarkanku mengayuh pemberian elang Aku pernah bersepeda menuju langit melalui perang petir yang sengit mahkotaku jatuh, mimpiku terjepit konon, aku pribumi biasa 29.9.18

Seorang Putri yang Bersepeda Menuju Langit

Aku pernah bersepeda menuju langit mengayuh beberapa mimpi pada aspal imaji pribumi mengantongiku sejumlah petisi konon, aku seorang putri putri bersepeda? bukankah cirrus pernah memahkotaiku? adakah mimpi seorang putri belum terpenuhi? Aku melaju, memancal pedal yang hilang katanya, lazuardi mengutuki para elang elangku sudah lama damai di jurang tapi itu kisah bohong langit tak sekejam neraka elangku mati suci menghadiahi sepeda manusia iri memandangku dilemparkan mukanya ke dasar bualan lalu membiarkanku mengayuh pemberian elang Aku pernah bersepeda menuju langit melalui perang petir yang sengit mahkotaku jatuh, mimpiku terjepit konon, aku pribumi biasa 29.9.18

Kampus dan Fajar

Rasanya seru banget bisa cerita buanyak perihal dunia kampus ke Fajar. Walaupun dia masih MTs dan jiwanya masih abg, aku rasa gaada salahnya. Karena kadang, pemikirannya lebih dewasa dariku. Aku rasa memang perlu berbincang terlampau jauh untuk ia yang masih awal. Karena aku takut, kelak aku kehabisan waktu bercerita seru dengan adikku sendiri.. Egoisnya, aku belum bisa menjamin dia kelak bisa kuliah di kedokteran dengan kondisi aku dan keluargaku seperti ini. Semoga Allah memudahkan jalan hidup gadis  kecilku yang pintar nan cantik.. Aamiin ~frdsstr

Mata-mata Ruh

Sepasang kekasih menguji setia "Aku memelukmu hingga nafasku habis," kata puan "Aku mencintaimu hingga mataku tertutup," kata tuan orang-orang mengerumuni mereka sepasang kekasih yang menguji setia tubuhnya anyir hancur lebur tak bernyawa "Setia mereka telah berlalu," kataku sayup-sayup kucatat bisikan ruh mereka "Aku masih setia, nafasku habis tetapi ruhku tak menepis," kata puan "Akupun sama, mataku tertutup tetapi ruhku masih hidup," kata puan "Mereka sepakat bohong," kataku oh tidak mereka tahu, aku jurnalis gaib "Persetan, kau!" mereka menudingku ~frdsstr

Senja di Siang Hari

Senja terlalu bising di telingaku kata-kata mengaku aku bukan, diriku hanya peluh yang diinjak oleh deru membisu Senja terlalu bising di langit biru katamu, malam terlalu malam pagi terlalu pagi bukan, aku yang ambigu kemudian berusaha tak layu ditelan cemburu ~frdsstr

Siapa Mereka

Entah siapa mereka. Hadir tiba-tiba menyesaki rangkaian kehidupan yang sudah sempit. Siapa mereka, buih kesenangan yang terpaksa kami kena getahnya. Cinta semakin buram. Diri kabur. Rasa yang semakin tak nyaman. Mengombang ambingkan mimpi rasa karsa dan sejuta asa. Siapa mereka?! Entah aku tidak bisa membayangkan bila cinta memang semakin buram. Hilang dan menyesatkan. Apa aku yang kurang liar... ~frdsstr

Puing

Seandainya aku datang bersama puing-puing itu, apakah lengan langit masih sepanjang dahulu? sementara mataku dipenuhi daun-daun bumi, fikiranku diberantas akar-akar yang semakin kekar pantaskah aku datang bersama puing-puing itu, segala ego tlah kulepaskan dari cakram hatiku muram tlah kujinakkan dari air muka yang melayu pantaskah? ~frdsstr, 9.9.18 @BalaiBudayaRejosari, Dawe, Kudus

Isak

membakar sepi yang kau takar lebih nikmat dari sembunyi di semak belukar lebih mudah dari menguji kuatnya akar kau tahu? Sejujurnya tak ada yang lebih di dunia ini terkecuali membeli waktumu apa bisa kubeli di penjual waktu? kurasa mereka ada di sela-sela langit aku mengadahnya kutemukan hujan, bukan itu air matamu membasahi sepi tak ada yang lebih dari sunyi tak ada ~frdsstr, 7.9.18

Layu

aku telah memanggil renjana memanggilmu dalam aksara lekas memuja dipasrahi asa dan hilang nyawa aku rehat menikmati ego yang kau suguhkan pagi lalu mereka terlalu mudah ditipu renjana menghianatiku merajam seluruh waktu habiskan aksara bisu bunga mati cemburu kemudian layu frdsstr, 7.9.18

Serial Gungun #1

Peri kecil bernama Gungun menelusuri hutan sendirian. Ia berjalan dengan sepatu mungil khas dari Klan Axeliafro. Gungun tak menyadari bahwa berada dalam hutan sendirian itu hal yang membahayakan, apalagi untuk usia anak-anak sepertinya. "Pokoknya aku harus menemukan mama!" ucap Gungun ketika merasa putus asa. Hari mulai gelap, sementara Gungun belum mendapatkan keinginannya. Ya, mama Gungun hilang dicuri penyihir jahat asal Corbasa. Peri lain tak yakin bila mama Gungun masih hidup, namun Gungun adalah peri kecil yang mempunyai tekad baja. Ia menganggap mamanya masih hidup dan selamat dari sihir maupun kutukan Penyihir Corbasa. Hingga terdengar suara aneh dari semak-semak. Peri kecil itu berhenti mengepakkan sayapnya ketika mendarat. "Aku bisa mengantarmu, peri kecil," bisik dari arah semak-semak itu. Gungun ketakutan. Keringat dingin mengucur deras. Siapa itu? To be continued ~

Diam dan sepi

Bukankah tidak ada yang lebih menyenangkan untuk diam? Berada di keramaian dengan hati yang dingin. Bahkan, untuk apa berbicara bila hanya menorehkan luka? Sebenarnya aku takut mengutarakan  dan takut mengekspresikan perasaan. Sejujurnya mulutku didesaki kata-kata yang tak jadi keluar. Kepalaku penuh tebakan dan ide yang bermunculan. Namun aku memilih diam. Karena aku tidak tahu apakah yang kulontarkan akan bisa diterima atau justru ditertawa. Entah. Itu sudah aku alami semenjak kecil. Di batas langit ini, aku ingin membicarakan sendu yang sepi. Diam yang menjadi prestasi. Dan gila yang perlahan kukagumi. Sepi ini, tanpa membicarakan rindu dan cinta. Akankah terwujud? Bukan. Aku memang mengagumi diam. Dari pada menyatakan. Kusimpan rapat hingga mereka tak  tau yang sebenarnya. Apa aku jahat? Bukan, aku hanya tak ingin melukai hati yang sudah terluka. Karena aku tau betapa sakitnya. Ya, aku pernah. Baiklah, kurasa cukup untuk membicarakan sepi. Karena bagaimanapun, sepi han...

Enggan berucap

Pagi ini aku ingin berucap selamat pagi. Hai. Selamat pagi. Hehe. Namun sepertinya kamu terlalu lelah denganku. Bosan dengan sapaan pagi yang itu-itu saja. Aku tidak mengerti, bahkan aku ingin menanyakan mengapa kamu tidak semenarik lagi kepadaku seperti dulu.. Aku rasa, kita memang seperti itu. Bukan, aku yang tidak bisa mendeskripsikanmu dengan jelas. Bayangmu kabur entah kemana. Hatimu kembali kosong tanpaku. Dan aku mendebu diusik angin. Ah, bukankah kita saling mendoakan saja? Selamat pagi 😊

Kosong

barangkali kau ingin singgah menemani langit yang padam dilindasi para kejam barangkali aku di sebelahmu mengecup meteor dan halu barangkali aku malu pada isi saku pada rembulan yang katamu bisu pada beledu darimu langit masih padam para bintang bermuram 2018

Resensi Antologi Puisi "Kata Kota"

Resensi Antologi Puisi "Kata Kota" Kudus dalam Puisi Peresensi Shoma Noor Firda Inayah Judul                           : Kata Kota Penulis                         : Fadlillah Rumayn, dkk. Kategori                      : Antologi Puisi Penerbit                       : WR Tsani Media (berkerjasama dengan Kofiku Media) Tahun Terbit               : 2017 Cetakan ke-                 : Pertama ISBN...

Sebelum Bulan Bercahaya

Aku terbakar dalam ingatan yang begitu tajam tentang bau tubuh kita yang tersiram hujan tentang teduh atas rasa yang mendalam juga tentang bulan dengan satu kedipan Hujan, rasa dan kedipan berada dalam titik gusarku saat kau bertahan memanggilku dan merengek penjelasan mengapa harus terjadi? tanyamu, secepat ini? kau manis sekali saat itu, tentang air mata yang tumpah menjadi laut kesedihan kita hingga kata tak mampu mewakilinya Kita.. berdiri di atas abu-abu hanya pilu yang menyeru, bersatu menjadi sendu kemudian berdebu berharap ada kedipan baru Sebelumnya gadis bulan, aku ingin bercerita hitam putih rasa kita teguk bersama kujanjikan dunia hanya milik kita berdua kuberi kau mawar, melati, lavender, anggrek, edelwis bahkan raflesia semuanya agar kau bercahaya namun .. kita tiada ikatan cinta lalu kau tau itu alasan sebagai sabda bahwa ku biarkan kau bercahaya Hujan biarkan kulepasmu, gadis bulan Rasa biarkan bahagiakanmu, gadis bulan Kedipan biarkan ia ada, gadis bulan Lagi, aku terb...