Skip to main content

Diam dan sepi

Bukankah tidak ada yang lebih menyenangkan untuk diam? Berada di keramaian dengan hati yang dingin. Bahkan, untuk apa berbicara bila hanya menorehkan luka? Sebenarnya aku takut mengutarakan  dan takut mengekspresikan perasaan.

Sejujurnya mulutku didesaki kata-kata yang tak jadi keluar. Kepalaku penuh tebakan dan ide yang bermunculan. Namun aku memilih diam. Karena aku tidak tahu apakah yang kulontarkan akan bisa diterima atau justru ditertawa. Entah. Itu sudah aku alami semenjak kecil.

Di batas langit ini, aku ingin membicarakan sendu yang sepi. Diam yang menjadi prestasi. Dan gila yang perlahan kukagumi.

Sepi ini, tanpa membicarakan rindu dan cinta. Akankah terwujud? Bukan. Aku memang mengagumi diam. Dari pada menyatakan. Kusimpan rapat hingga mereka tak  tau yang sebenarnya. Apa aku jahat? Bukan, aku hanya tak ingin melukai hati yang sudah terluka. Karena aku tau betapa sakitnya. Ya, aku pernah.

Baiklah, kurasa cukup untuk membicarakan sepi. Karena bagaimanapun, sepi hanya untuk orang yang diam tanpa berkata apapun. Sepi hanya untuk yang merasa kehilangan. Sepi hanya untuk yang merasa candu pada luka.

Aku tidak sedang kesepian, karena aku dapat menuliskannya di sini.

~frdsstr

Comments