Alhamdulillah, kemarin tengah malam hatiku gembira. Seolah sulut kebahagiaan membakar segala ruang. Aku menjadi bangga sampai tidak bisa tidur. Mimpiku takkaruan, entah tak terdefinisikan. Pagiku pun bahagia, kusebar kabar indah yang bermakna. Namun sedikit hati2 bila nanti membuat hati terluka bila aku tak mampu mewujudkan apa yang mereka minta. Mereka terlampau bangga padaku. Bahagiaku berlipat ganda ketika sanjungan dan pujian datang dari teman2 kelasku dan dosen yang mengampuku. Aku tak tahu harus benar-benar bahagia atau setengah malu. Karena aku bahkan belum memegang penghargaan itu. Ya, aku rasa akulah yang seharusnya datang malam itu. Bukan, aku takut sombong. Tidak, aku tidak mengatakannya sombong. Aku hanya merasa... tidak memang tidak pantas.
Siangku masih gembira, kubaca dongeng-dongeng di buku Ikan-Ikan Terbang karya Mas Al. Ya sejujurnya aku ingin seperti pengarangnya, licik dalam membuat emosi pembaca terseret. Ah soreku ternyata seperti senja. Menanti kabar gembira, seperti warna cerah oranye nya dan semburat kuning lalu ungu, hingga dongker memenuhi hamparan langit. Kemudian kelam. Bahagiaku entah hilang kemana ditelan seorang yang kabur dari perkataannya. Mementingkan beberapa dari dirinya, bukan. Aku rasa dia tidak egois. Mungkin saja aku yang terlalu menjinjing perasaan. Ah aku menangis..
Akhirnya sadar, ada dan tiadaku sama saja..
Aku sadar, bahwa aku hanyalah yang menulis..
Comments
Post a Comment